Lihat.co - Kecerdasan buatan (AI) semakin banyak dimanfaatkan dalam penelitian ilmiah, tidak hanya untuk membantu menulis kode atau merangkum dokumen, tetapi juga sebagai mitra diskusi dalam memecahkan persoalan yang kompleks. Salah satu contohnya datang dari fisikawan teoretis asal Jepang, Yuji Tachikawa, yang mengaku berhasil melanjutkan proyek riset teori string setelah berdiskusi dengan model AI Fable 5.
Menurut Tachikawa, proyek kolaborasi tersebut sempat mengalami kebuntuan selama sekitar enam bulan. Sebagai percobaan, ia menyerahkan catatan penelitian yang telah lama tidak disentuh kepada Fable 5 untuk melihat bagaimana model AI itu menganalisis persoalan yang dihadapinya.
Alih-alih langsung memberikan jawaban, Fable 5 lebih dulu menemukan adanya kesalahan pada salah satu proses perhitungan. Model tersebut kemudian mengusulkan pendekatan lain yang dinilai layak untuk dicoba. Tachikawa mengaku sebenarnya pernah mempertimbangkan metode serupa, tetapi belum berhasil memperoleh hasil yang diinginkan.
Diskusi kemudian berlanjut dengan saling bertukar ide mengenai kemungkinan penyelesaian masalah tersebut. Dari percakapan itu, Fable 5 mengembangkan pendekatan yang sebelumnya sempat ditinggalkan hingga akhirnya menghasilkan solusi yang menurut Tachikawa mampu membuka kembali arah penelitian yang telah lama terhenti.
Hal yang paling menarik perhatian Tachikawa bukan hanya jawaban yang diberikan AI, melainkan cara model tersebut memeriksa hasil pekerjaannya. Ia mengatakan Fable 5 secara aktif menggunakan pustaka matematika SymPy untuk menulis kode sekaligus memverifikasi hasil perhitungan selama proses penalaran berlangsung. Setelah meninjau kembali langkah-langkah yang dihasilkan, Tachikawa menilai masih terdapat beberapa kekurangan kecil, tetapi secara keseluruhan hasilnya cukup baik.
Meski memberikan kesan positif, Tachikawa menegaskan pengalamannya bukan merupakan pengujian ilmiah yang dilakukan secara sistematis. Ia hanya ingin mengetahui sejauh mana kemampuan Fable 5 dalam membantu proses penelitian. Berdasarkan pengalaman tersebut, ia juga menilai Fable 5 memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan ChatGPT 5.5 Pro untuk riset yang sedang dikerjakannya, meski belum sempat mencoba ChatGPT 5.6.

Tak lama setelah pengalamannya ramai dibagikan di media sosial, Tachikawa memutuskan menghapus unggahan tersebut dari akun X miliknya. Dalam penjelasan lanjutan, ia mengatakan cuitan tersebut menyebar jauh lebih luas dari yang diperkirakan dan memicu perhatian yang tidak diinginkannya.
Tachikawa menjelaskan bahwa tujuan awalnya hanya ingin berbagi pengalaman sebagai peneliti mengenai kemampuan Fable 5 sebagai alat bantu riset, bukan menjadi bahan perbincangan di media sosial. Ia juga menyampaikan akan berhenti memantau X untuk sementara waktu setelah menghapus unggahan tersebut.
Terlepas dari respons yang muncul di media sosial, pengalaman Tachikawa menjadi salah satu contoh bagaimana AI generatif mulai dimanfaatkan dalam aktivitas penelitian ilmiah. Model AI kini tidak hanya digunakan untuk menghasilkan teks atau membantu pemrograman, tetapi juga mulai berperan sebagai mitra diskusi dalam mengeksplorasi ide, memeriksa perhitungan, hingga mencari pendekatan alternatif terhadap persoalan yang kompleks.
Meski demikian, hasil yang diberikan AI tetap memerlukan verifikasi oleh peneliti sebelum digunakan sebagai dasar pengembangan teori atau publikasi ilmiah. Dengan kata lain, AI berpotensi mempercepat proses riset dan meningkatkan produktivitas peneliti, tetapi belum menggantikan metode ilmiah maupun penilaian yang dilakukan oleh manusia.







Komentar