Lihat.co - CEO NVIDIA Jensen Huang menyerukan pentingnya pengembangan model AI terbuka (open-weight models) sebagai bagian dari masa depan kecerdasan buatan. Melalui unggahan di akun X miliknya, Huang membagikan sebuah letter yang didukung oleh sejumlah perusahaan dan pemimpin teknologi global mengenai peran model terbuka dalam memperluas akses, meningkatkan keamanan, dan mendorong inovasi AI.
Dalam unggahannya, Huang mengatakan AI akan mengubah seluruh industri, menggerakkan perusahaan di berbagai sektor, dan dikembangkan oleh negara-negara di seluruh dunia.
“AI akan mengubah setiap industri, mendukung setiap perusahaan, dan dibangun oleh setiap negara.”
Menurut Huang, model AI terbuka dapat memperkuat keamanan dan keamanan siber, mempercepat inovasi, serta membantu penyebaran teknologi AI ke lebih banyak pengguna.
Ia juga menegaskan bahwa perkembangan AI ke depan tidak akan ditentukan oleh satu pendekatan saja.
“Dunia membutuhkan baik model AI tertutup tercanggih maupun model AI terbuka tercanggih.”
Letter berjudul “Open Weights and American AI Leadership” tersebut mendapat dukungan dari berbagai perusahaan teknologi, termasuk NVIDIA, OpenAI, Google, Microsoft, Meta, Hugging Face, IBM, GitHub, dan sejumlah organisasi teknologi lainnya.
Dokumen tersebut membahas pentingnya open-weight model, yaitu model AI yang memungkinkan pengguna mengunduh, memeriksa, memodifikasi, dan menjalankan model tersebut pada infrastruktur mereka sendiri. Pendekatan ini dinilai dapat membuat teknologi AI lebih mudah diakses, fleksibel, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
Surat tersebut juga membandingkan perkembangan model AI terbuka dengan gerakan open source pada industri perangkat lunak. Menurut dokumen itu, ekosistem terbuka telah membantu pengembang di seluruh dunia mempelajari, memodifikasi, dan meningkatkan teknologi secara bersama-sama.
Dukungan Huang kemudian mendapat respons dari sejumlah tokoh besar industri teknologi, termasuk Elon Musk, Mark Zuckerberg, Demis Hassabis, Sundar Pichai, Satya Nadella, dan Sam Altman.
CEO Tesla dan SpaceXAI Elon Musk menyatakan dukungannya terhadap gagasan tersebut.
“Saya sepenuhnya mendukung hal ini. Jensen benar.”
CEO Meta Mark Zuckerberg juga menyampaikan dukungannya terhadap pendekatan terbuka dalam pengembangan teknologi AI.
“Open source merupakan kekuatan positif dan penting untuk memberdayakan masyarakat sekaligus mencegah terjadinya sentralisasi. Saya bangga mendukung hal ini.”
Menurut Zuckerberg, pendekatan terbuka dapat membantu mencegah teknologi AI hanya dikuasai oleh segelintir perusahaan besar.
Sementara itu, CEO Google Sundar Pichai mengatakan Google telah lama mendapatkan manfaat dari ekosistem open source dan terus berkontribusi terhadap perkembangan teknologi terbuka.
“Kami sangat senang mendukung hal ini atas nama Google. Kami telah lama memperoleh manfaat dari open source, menjadi salah satu kontributor besar dalam ekosistem open source, dan secara konsisten menghadirkan model open-weight melalui Gemma.”
CEO Google DeepMind Demis Hassabis juga mendukung pengembangan ekosistem AI terbuka. Ia menilai keterbukaan menjadi bagian penting agar manfaat AI dapat dirasakan lebih luas.
“Ekosistem terbuka yang kuat dan aman sangat penting agar dunia dapat memperoleh manfaat dari AI. Kami selalu mendukung dan berkontribusi besar terhadap open source serta ilmu pengetahuan, mulai dari JAX, Transformers, AlphaFold, hingga model terbuka Gemma yang kini telah diunduh lebih dari 300 juta kali.”
Hassabis juga mengatakan standar penerapan AI yang bertanggung jawab perlu mencakup baik model terbuka maupun model proprietary.
Dari sisi Microsoft, CEO Satya Nadella menilai model open-weight merupakan bagian penting dari ekosistem AI yang sehat.
“Model open-weight merupakan elemen penting bagi ekosistem AI yang sehat. Bersama pihak lain di industri ini, kami sedang membangun jalur agar model open-weight dapat memperkuat daya saing Amerika Serikat dan memperluas peluang ekonomi, sekaligus tetap melindungi keamanan nasional.”
Dukungan juga datang dari CEO OpenAI Sam Altman. Meski OpenAI dikenal mengembangkan sejumlah model proprietary, Altman menilai kedua pendekatan tetap memiliki peran dalam persaingan AI.
“Saya ingin Amerika Serikat unggul dalam AI, baik melalui model open source maupun model proprietary, dan saya senang melihat hal ini.”
Mantan Chief Technology Officer OpenAI dan CEO Thinking Machines Lab Mira Murati turut menyampaikan pandangannya bahwa AI perlu dapat memanfaatkan pengetahuan yang tersebar di berbagai bidang.
“Pengetahuan yang membuat AI menjadi berguna tersebar di berbagai pihak. Pengetahuan itu berada di tangan ilmuwan, insinyur, tenaga kesehatan, dan perusahaan. Agar AI dapat memanfaatkan pengetahuan yang tersebar tersebut, AI itu sendiri juga harus dapat didistribusikan secara luas.”
Surat tersebut menilai model terbuka dapat memperluas akses terhadap ekonomi AI. Startup, perusahaan besar, universitas, dan lembaga publik dapat membangun solusi berbasis AI tanpa harus melatih model besar dari awal atau menanggung biaya tinggi untuk setiap kebutuhan.
Selain akses yang lebih luas, model terbuka juga dinilai dapat meningkatkan kompetisi industri. Dengan lebih banyak organisasi yang dapat mengembangkan dan menerapkan model AI, persaingan tidak hanya terjadi antar-pembuat model, tetapi juga meluas ke sektor chip, cloud, aplikasi, dan layanan AI.
Meski mendukung model terbuka, surat tersebut juga mengakui adanya risiko. Setelah bobot model dirilis, pengembang awal memiliki kendali lebih terbatas terhadap bagaimana model tersebut dimodifikasi atau digunakan.
Namun, para pendukung surat menilai keterbukaan juga dapat membantu meningkatkan keamanan karena lebih banyak peneliti dan pengembang dapat memeriksa, menguji, menemukan kelemahan, dan memperbaiki sistem AI.
Dukungan dari para pemimpin teknologi ini menunjukkan bahwa persaingan AI ke depan kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki model paling kuat, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat dikembangkan dan digunakan secara bertanggung jawab.
Model tertutup masih memiliki keunggulan dalam hal kontrol, infrastruktur, dan layanan terintegrasi. Sementara itu, model terbuka menawarkan fleksibilitas, transparansi, dan kemampuan untuk disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Bagi pengguna teknologi, semakin berkembangnya model AI terbuka memberikan lebih banyak pilihan dalam memanfaatkan kecerdasan buatan. Perusahaan dan pengembang dapat memilih model berdasarkan kebutuhan, mulai dari biaya, tingkat privasi, hingga fleksibilitas pengembangan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang bagi startup, perguruan tinggi, dan pengembang lokal untuk membangun solusi AI yang lebih sesuai dengan kebutuhan domestik. Model terbuka dapat membantu memperluas akses terhadap teknologi AI tanpa harus selalu bergantung pada satu penyedia layanan.
Pada akhirnya, persaingan antara model AI terbuka dan tertutup berpotensi menciptakan ekosistem yang lebih sehat. Kompetisi tersebut dapat mendorong inovasi lebih cepat, menekan biaya penggunaan AI, serta memperluas manfaat teknologi ini ke lebih banyak sektor.







Komentar